❗️Setan telah berikrar untuk menggoda manusia. Ia bersumpah di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala setelah Allah memutuskan bahwa dia harus keluar dari surga dalam keadaan terhina.
❗️Iblis menjawab sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧
“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)
📝 Qatadah rahimahullah mengatakan,
“Wahai anak Adam, setan akan mendatangimu dari segala arah. Akan tetapi, ia tidak akan mendatangimu dari arah atasmu. Ia tidak akan bisa menghalangi antara kamu dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.”
📝 Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Jalan yang dilalui manusia ada empat, tidak ada yang lain. Seseorang terkadang mengambil arah kanan, terkadang mengambil arah kiri, terkadang mengambil arah depan, dan terkadang kembali ke belakang. Jalan mana saja yang ia tempuh dari arah-arah ini, ia akan mendapati setan mengintainya.
Kalau dia menelusuri jalan tersebut untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ia akan mendapati setan pada jalan itu untuk menghambatnya dan memutus jalannya, atau untuk melambankan ketaatannya. Sementara itu, apabila ia menelusuri jalan itu untuk berbuat maksiat, ia akan mendapati setan berada padanya untuk menyemangatinya atau untuk membantunya serta menghiasinya dengan angan-angan. Seandainya ia bisa turun, setan pun akan menggoda dari arah sana.”
📝 Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan,
“Tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan sesuatu kecuali setan memiliki dua godaan kepadanya, baik ke arah menyepelekan atau ke arah berlebih-lebihan. Adapun agama Allah subhanahu wa ta’ala berada di tengah-tengah; antara yang menyepelekannya dan yang berlebih-lebihan. Bagaikan sebuah lembah yang terletak di antara dua gunung, petunjuk di antara dua kesesatan, dan di tengah antara dua ujung (kutub) yang tercela.
Sebagaimana orang yang menyepelekan perintah itu berarti menyia-nyiakannya, demikian pula yang berlebihan juga menyia-nyiakannya. Hanya saja yang itu dengan menyepelekan, sedangkan yang ini dengan melampaui batas.” (Madarijus Salikin)
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/godaan-hawa-nafsu/
📲 https://t.me/asysyariah