Thursday, November 26, 2020

HUKUM DARAH YANG KELUAR DARI TUBUH (MIMISAN, LUKA, DLL)

Pertanyaan:


Fadhilatusy syeikh, apakah darah yang keluar dari tubuh adalah najis dan apakah wajib melepaskan pakaian ketika menunaikan shalat ?

Jawaban:

Darah yang keluar dari tubuh jika ia keluar dari dua jalan yaitu qubul atau dubur maka ia adalah najis; sebab Nabi shallallahu alahi wasallam memerintahkan wanita di dalam haid untuk mencuci darah haid.

Dan jika ia keluar dari bagian yang lain dari tubuh seperti mimisan dan luka dan yang semisalnya, maka kebanyakan para ahli ilmu berpendapat bahwa ia adalah najis akan tetapi dimaafkan dari yang ringannya; yaitu sesuatu yang sedikit darinya hingga walaupun ia mengenai badan dan pakaian.

Dan sebagian ulama berpendapat: bahwa ia tidaklah najis; sebab Nabi Shallallahu alahi wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang mukmin tidaklah najis".

Dan dahulu para sahabat di dalam jihad mereka tertimpa luka dan badan dan pakaian mereka tercemari/terkotori dengan darah tersebut, dan tidak ternukilkan bahwa mereka diperintah mencucinya;

Sebab apa yang terpisah dari manusia maka ia adalah suci, lalu seandainya jarinya terputus (sekedar contoh) maka jari tersebut adalah suci, maka jika bagian-bagian tersebut terpisah maka ia adalah suci, maka kesucian darah ialah lebih pantas, padahal bagian-bagian tersebut yang terpisah mesti padanya terdapat darah, akan tetapi lebih hati-hatinya adalah ia mencucinya kecuali sesuatu yang ringan yang dianggap biasa maka tidaklah mengapa ia mencucinya.

Akan tetapi mengapa engkau tidak bertanya apakah ia membatalkan wudhu ataukah tidak?

Maka kita jawab: Sesungguhnya ia tidaklah membatalkan wudhu kecuali apa yang keluar dari dua jalan.

Adapun yang keluar dari bagian yang lain dari tubuh  maka sungguh ia tidaklah membatalkan wudhu sama saja sedikit ataukah banyak.


Asy-Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah

📚Sumber: [silsilah liqaatil babil maftuh (81)]
📶 http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/od_081_14.mp3

🔲 حكم الدم الخارج من الجسم

السؤال:
فضيلة الشيخ ، هل الدم الخارج من الجسم نجس وهل يجب خلع الثياب عند أداء الصلاة

الجواب:
الدم الخارج من الجسم إن خرج من السبيلين؛ أي: من القبل أو الدبر فهو نجس؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم كان يأمر النساء في الحيض أن يغسلن دم الحيض.

وإن خرج من بقية البدن كالرعاف والجرح وما أشبه ذلك، فأكثر أهل العلم يرون أنه نجس لكن يعفى عن يسيره؛ يعني: عن الشيء القليل منه، حتى ولو أصاب البدن منه أو الثوب،

وبعض العلماء: يرى أنه ليس بنجس ؛ لأن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال: «إن المؤمن لا ينجس»

وكان الصحابة رضي الله عنهم في الجهاد تصيبهم الجراحة وتتلوث أبدانهم وتتلوث ثيابهم بذلك الدم، ولم ينقل أنهم أمروا بغسله؛

ولأن ما فصل من الآدمي فهو طاهر فلو قطعت إصبعه مثلاً فالإصبع طاهرة، فإذا كانت الأجزاء إذا انفصلت فهي طاهرة فطهارة الدم من باب أولى، على أن الأجزاء التي تنفصل لابد أن يكون بها دم، لكن الاحتياط: أن يغسله. إلا أن يكون شيئاً يسيراً جرت به العادة فلا بأس ألا يغسله.

• لكن لماذا لم تسأل هل ينقض الوضوء أو لا؟

فنقول: إنه لا ينقض الوضوء إلا ما خرج من السبيلين.
أما ما خرج من بقية البدن فإنه لا ينقض الوضوء سواءً كان قليلاً أو كثيراً

📠 @manhaj_salafy
✍️ Fawaaid Ahlussunnah
🌏 Kanal Telegram: ➠ https://t.me/alfawaaid

◾️◾️◾️◾️◾️

HUKUM SEORANG YG RAGU APAKAH PAKAIANNYA ADA NAJISNYA DALAM SHALAT

Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah

إذا شك المصلي في وجود نجاسة في ثوبه وهو في الصلاة لم يجز له الانصراف منها، سواء كان إماماً أو مأموماً أو منفرداً وعليه أن يتم صلاته، ومتى علم بعد ذلك وجود النجاسة في ثوبه فليس عليه قضاء.

“Jika seorang yg shalat itu ragu-ragu apakah ada najis dalam pakaiannya, ketika dia sedang shalat, maka dia tidak boleh membatalkan shalatnya.

Sama saja apakah dia sebagai Imam, atau makmum atau shalat sendiri. Dia wajib menyempurnakan shalatnya.

Tatkala dia mengetahui setelah itu akan adanya najis dalam pakaiannya, maka dia tidak wajib mengulangi shalatnya.”

📑 Majmu Al-Fatawa 10/396

#shalat #lupa #najis #batal

💽 @ahlussunnahposo
✍️ Fawaaid Ahlussunnah
🌏 Kanal Telegram: ➠ https://t.me/alfawaaid

◾️◾️◾️◾️◾️

JANGAN BERSANDAR KEPADA KECERDASAN DAN ILMUMU

 

 Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- berkata:

"Janganlah bersandar kepada kecerdasanmu, jangan pula bersandar kepada banyaknya ilmumu. Bahakan bersandarlah kepada Allah عز وجل.

Mintalah selalu kepada Allah agar kamu diberi petunjuk kepada kebenaran yang diperselisihkan oleh manusia."

📚 Syarah usul tafsir hal 287.

‏قال الشيخُ ‎#ابنُ_عثيمينِ رحمهُ اللهُ:

- لا تعتمدُ على ذكائِك ولا على كثرةِ علومِك، بلْ
اعتمدْ علَى اللهِ عز وجل

- واسألْ اللهَ دائمًا أن يهديَك لمَا اختلفَ الناسُ فيه من الحقِ.

شرح أصول التفسير ٢٨٧.



📲 قناة : [ مواعيد وأخبار سلفية ]
─═┅┅┅┅ مِـنْ هُنـ↶ـا: ┅┅┅┅═─
https://t.me/slafnew
─═┅┅┅┅═──═┅┅┅┅═─
▫️رابط الصفحة على الفيسبوك⬇️⬇️


♻️ ساهِمُوا بِنَشْرِهَا فَالدّالُّ علَى الخَيرِ كَفَاعِلِه


🌎 WhatsApp Salafy Cirebon
⏯ Channel Telegram || https://t.me/salafy_cirebon
🖥 Website Salafy Cirebon :
www.salafycirebon.com


📳 Menyajikan artikel dan audio kajian ilmiah


◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️◻️

Tuesday, November 10, 2020

LARANGAN MENUNAIKAN JANJI YANG MENGANDUNG MAKSIAT

✅ Menunaikan janji itu dilakukan pada perkara yang baik dan bermaslahat, serta pada sesuatu yang sifatnya mubah/boleh menurut syariat.

❌ Adapun jika seorang memberikan janji dengan suatu bentuk kemaksiatan dan kemudaratan, atau mengikat perjanjian yang mengandung bentuk kejelekan dan permusuhan; menepati janji pada perkara-perkara ini bukanlah sifat orang-orang yang beriman, dan ia tidak boleh menunaikannya.

💡Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ

“Tidak ada nazar (yang boleh ditunaikan) dalam perkara maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad, dari sahabat Jabir radhiallahu anhu. Lihat Shahihul Jami’, no. 7574)


🖥 Simak selengkapnya:

🌏 https://asysyariah.com/menepati-janji/

📲 https://t.me/asysyariah

LARANGAN MENGINGKARI JANJI TERHADAP ANAK KECIL

📝 Sikap mengingkari janji, terhadap siapa pun itu, tidaklah dibenarkan oleh agama Islam; meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan perangai yang tercela pada diri mereka.

💡Imam Abu Dawud rahimahullah telah meriwayatkan hadits dari sahabat Abdullah bin Amir radhiallahu anhuma, dia berkata,

“Pada suatu hari, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dan berkata, ‘Kemarilah! Aku akan memberimu sesuatu!’

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada ibuku, ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’

Ibuku menjawab, ‘Kurma.’

Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَمَا إِنَّكِ لَوْ لـَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ

‘Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu, akan ditulis untukmu satu kedustaan.’” (HR. Abu Dawud, Bab at-Tasydid fil Kadzib, no. 498. Lihat ash-Shahihah, no. 748)

🖌 Ada faedah dalam hadits ini, yaitu sesuatu yang biasa diucapkan manusia kepada anak-anak kecil ketika mereka menangis, seperti kalimat janji yang tidak ditepati atau menakut-nakuti mereka dengan sesuatu yang tidak ada, adalah perbuatan yang diharamkan. (Aunul Ma’bud, 13/ 229)

💡Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata,

لَا يَصْلُحُ الْكَذِبُ فِي جِدٍّ وَلَا هَزْلٍ، وَلَا أَنْ يَعِدَ أَحَدُكُمْ وَلَدَهُ شَيْئًا ثُمَّ لَا يُنْجِزُ لَهُ

“Kedustaan itu tidak diperbolehkan, baik serius maupun bercanda. Janganlah salah seorang dari kalian menjanjikan sesuatu kepada anaknya, lalu ia malah tidak memenuhinya.” (Shahih al-Adabul Mufrad, no. 300)


🖥 Simak selengkapnya:

🌏 https://asysyariah.com/menepati-janji/

📲 https://t.me/asysyariah