Monday, June 22, 2020

HURU-HARA TITIAN SHIRAT

قال الإمام القرطبي رحمه الله:

Al-Imam Al-Qurthuby rahimahullah berkata:

"Fikirkanlah sekarang tentang apa yang akan engkau alami berupa ketakutan yang besar dalam hatimu, jika engkau telah melihat shirat dan tipisnya, lalu pandanganmu tertuju kepada hitamnya Jahannam dibawahnya.

Kemudian pendengaranmu dikagetkan dengan suara neraka yang mengerikan dan gemuruhnya.

Sungguh engkau akan dipaksa berjalan melintasi shirat bersamaan dengan lemahnya kondisimu, dan kegoncangan hatimu dan gemetarnya kakimu.
Dan punggungmu sudah terasa berat dengan dosa-dosa yang menghalangimu untuk bisa berjalan di hamparan bumi, lebih-lebih diatas tajamnya shirat.

Maka bagaimana jika engkau meletakkan salah satu kakimu lalu engkau merasakan tajamnya. Lalu engkau dipaksa mengangkat kakimu yang kedua, dan para makhluk berada dihadapanmu, mereka terpeleset dan berjatuhan. Dan malaikat Zabaniyah-nya neraka menangkap mereka dengan penyambar dan pengait-pengait besi.

Dalam keadaan engkau melihat mereka, bagaimana mereka terjungkir kepala-kepala mereka ke arah neraka, dalam keadaan kaki mereka terangkat ke atas. Duhai betapa mengerikan pemandangan tersebut.. betapa sulitnya tempat naiknya, betapa sempitnya tempat (titiannya),

Ya Allah selamatkanlah kami, selamatkanlah kami!

تفكَّر الآن فيما يحل بك من الفزع بفؤادك إذا رأيت الصراط ودقَّتَه، ثم وقع بصرك على سواد جهنم من تحته، ثم قرَع سمعَك شهيق النار وتغيُّظُها، وقد كُلِّفت أن تمشي على الصراط، مع ضعف حالك، واضطراب قلبك، وتزلزل قدمك، وثقل ظهرك بالأوزار المانعة لك من المشي على بساط الأرض، فضلاً عن حدة الصراط، فكيف بك إذا وضعت عليه إحدى رجليك، فأحسست بحدَّته، واضطررت إلى أن ترفع قدمك الثانية، والخلائق بين يديك يزِلُّون ويتعثرون، وتتناولهم زبانية النار بالخطاطيف والكَلاليب، وأنت تنظر إليهم كيف ينكسون إلى جهة النار رؤوسهم وتعلو أرجلهم، فيا له من منظر ما أفظعَه، ومرتقًى ما أصعبَه، ومجال ما أضيقَه، فاللهم سلِّم سلم.

التذكرة للقرطبي (757)

ــــــ ✵✵ ــــــ ✵✵ــــــ

? أُنشرُوهَا فَنشّرُ العِلمِ مِنْ أَعْظَمِ القُرُبَات

✅ تــابِـعـُونَا عَبـرَ الـتـَلـِيـقَــ☟ـــرَام

▫️▫️▫️
bit.ly/an-NajiyahBali
Sumber:
Http://forumsalafy.net
http://soo.gd/Cq04

Telegram (http://bit.ly/an-NajiyahBali)
An-Najiyah Bali
Menebar Ilmu Warisan Para Nabi

Saturday, June 20, 2020

PENTINGNYA KEIKHLASAN DALAM BERAMAL

✍🏻 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدتُ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya adalah;

¶ (Pertama), seseorang yang mati syahid.
Kemudian dihadapkan (kepada Allah) lalu diperlihatkan kepadanya nikmatnya, dan dia mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan kenikmatan itu?’

Orang itu berkata, ‘Saya berperang demi Engkau hingga mati syahid.’

Allah berkata, ‘Engkau dusta. Sebetulnya engkau berperang agar dikatakan pemberani, dan itu sudah diucapkan (orang).’ Lalu dia dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya sampai dilemparkan ke dalam neraka.

¶ (Yang kedua) orang yang menuntut ilmu (syariat), mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an.
Dia dibawa ke hadapan Allah, diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat padanya?’

‘Saya mencari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena Engkau,’ jawabnya.

Kata Allah, ‘Kamu dusta. Sebetulnya engkau mencari ilmu agar dikatakan alim dan membaca Al-Qur’an agar digelari qari. Sungguh, semua itu sudah diucapkan (orang).’ Dia pun dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya lalu dilemparkan ke dalam neraka.

¶ (Yang ketiga), orang yang telah diberi kecukupan dan harta oleh Allah.
Dia dihadapkan kepada Allah, dan diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat padanya?’

‘Tidak saya biarkan satu jalan yang Engkau cintai saya berinfak padanya, melainkan saya melakukannya karena Engkau,’ katanya.

Allah berkata, “Kamu dusta. Sebetulnya kamu berbuat demikian agar dikatakan dermawan, dan itu sudah diucapkan (orang).’ Lalu dia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

📚 HR. Muslim (1905)

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

BERSABAR DAN RIDHA KETIKA TERTIMPA MUSIBAH

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)


✍🏻 Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan,

ﻭﻣﻦ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻓﻌﻠﻢ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﻘﻀﺎء اﻟﻠﻪ ﻭﻗﺪﺭﻩ، ﻓﺼﺒﺮ ﻭاﺣﺘﺴﺐ ﻭاﺳﺘﺴﻠﻢ ﻟﻘﻀﺎء اﻟﻠﻪ، ﻫﺪﻯ اﻟﻠﻪ ﻗﻠﺒﻪ، ﻭﻋﻮﺿﻪ ﻋﻤﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﻣﻦ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻫﺪﻯ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ، ﻭﻳﻘﻴﻨﺎ ﺻﺎﺩﻗﺎ، ﻭﻗﺪ ﻳﺨﻠﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺧﺬ ﻣﻨﻪ، ﺃﻭ ﺧﻴﺮا ﻣﻨﻪ

“Siapa yang tertimpa musibah, kemudian ia meyakini bahwa itu berasal dari ketentuan dan takdir Allah; lantas ia bersabar, berihtisab (mengharap pahala dari Allah), dan menyerahkan semuanya kepada takdir Allah; niscaya Allah akan memberi kalbunya hidayah.

Demikian pula Allah akan mengganti apa yang hilang dari perkara dunianya dengan memberi kalbunya petunjuk dan keyakinan yang jujur.

Bahkan, terkadang atau seringkali Allah menganugerahi ganti yang serupa atau lebih baik.”

📚 Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim 8/137

🌎 Kunjungi || https://forumsalafy.net/bersabar-dan-ridha-ketika-tertimpa-musibah

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Thursday, June 18, 2020

KISAH PELACUR DAN ANJING YANG KEHAUSAN

Baca Selengkapnya:
https://asysyariah.com/jangan-meremehkan-satu-kebaikanpun/

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ

“Seekor anjing berputar-putar di sekeliling sebuah sumur, dalam keadaan dia hampir mati kehausan. Tiba-tiba seorang pelacur dari kalangan Bani Israil melihatnya. Kemudian wanita itu melepas sepatunya lalu memberi minum anjing tersebut. Karena itu, dia diampuni oleh Allah.” (HR. al-Bukhari 4/216 [2467] dan Muslim no. 2245)

*

Di siang terik itu, tanah dan batu bagai tungku api raksasa. Ia membakar semua yang di atasnya. Seekor anjing berjalan tertatih-tatih sambil menjulurkan lidahnya. Namun, itu bukan sekadar kebiasaannya.

Semangat hidupnya seolah terbangkit ketika mencium bau air yang segar. Dia pun berjalan mengitari sebuah sumur yang ada di tanah sunyi itu, mencari jalan untuk meminum airnya. Tentu saja tidak mungkin. Air itu jauh di dasar sumur.

Akhirnya, anjing itu hanya berputar-putar di sekelilingnya. Bagaimana caranya agar dia dapat minum? Adakah jalan untuk menuruni sumur itu? Berkali-kali dia mengitari sumur itu dengan rasa panik karena kehausan. Apakah dia akan mati di tepi sumur itu?

Jangan dikira dia sekadar berusaha. Anjing juga makhluk Allah subhanahu wa ta’ala, yang malah lebih mulia dari kebanyakan makhluk yang berpakaian. Anjing juga hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, ada yang lebih taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala daripada sebagian orang yang bersorban.

Pernah dinukil dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Anjing yang tepercaya lebih baik daripada manusia yang khianat.”

Itulah seekor anjing. Dia juga bertasbih, beribadah, berdoa dengan cara yang ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagi mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka….” (al-Isra: 44)

Sambil berputar-putar dia tetap berdoa dengan cara yang hanya dimengerti oleh Penciptanya subhanahu wa ta’ala. Keadaan darurat yang dialami anjing itu sudah merupakan ungkapan permohonan sendiri.

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, siapa pun dia, makhluk apa pun dia. Apa pun pekerjaannya dan bagaimanapun statusnya.

Semua yang ada di bumi dan di langit, Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatur rezeki mereka. Walaupun seekor anjing, Allah subahanhu wa ta’ala tetap memperhatikan kebutuhannya.

Tak berapa lama, lewatlah seorang wanita Bani Israil. Wanita ini dikenal sebagai baghiy (pelacur). Dari kejauhan, dia melihat seekor anjing berputar-putar di sebuah sumur. Ada apa dengan anjing tersebut? Mengapa dia berputar-putar di sekeliling sumur itu? Apakah makanannya terjatuh ke dalam sumur itu? Atau ada anjing lain yang terjatuh ke dalamnya? Ada apa?

Akan tetapi, karena dia juga kehausan, dia pun melangkah menuju sumur itu. Ternyata, itulah sumur satu-satunya di jalan yang sunyi itu. Semakin dekat, wanita itu baru mengerti kalau anjing itu ternyata hampir mati kehausan.

Wanita itu melihat-lihat adakah sesuatu yang dapat dipakai untuk mengambil air di dalam sumur tersebut? Ternyata tidak ada. Akhirnya, dia nekat menuruni sumur itu sambil membawa sepatunya untuk mengambil air.

Tak lama kemudian, wanita itu keluar dari dalam sumur sambil menenteng sepatunya yang berisi air. Setelah itu dia meminumkannya kepada anjing itu. Tidak diceritakan berapa kali dia naik turun mengambil air. Paling tidak dengan hanya sebuah sepatu, tentu tidak cukup menghilangkan haus anjing itu.

Dengan telaten dia meminumkannya kepada anjing tersebut sementara dia sendiri juga kehausan. Tak lama anjing itu pun segar kembali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengampuninya. Hanya karena memberi minum seekor anjing, wanita itu diampuni oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal, pekerjaannya selama ini bukanlah pekerjaan yang mulia. Dosa besar.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, serta jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

Tentu saja, semua ini didasari oleh keimanan yang murni, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu di atas. Kalau tidak, belum tentu semua baghiy akan memperoleh ampunan hanya karena memberi minum seekor anjing. Renungkan kembali hadits tentang tiga orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali.

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Wednesday, June 17, 2020

DEFINISI GHIBAH

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan makna ghibah dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian, apa ghibah itu?”

Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Engkau menceritakan tentang saudaramu perkara yang dia benci.”

Beliau ditanya, “Bagaimana kalau perkara yang aku katakan itu memang ada pada dirinya?”

Beliau menjawab, “Kalau apa yang engkau katakan itu ada pada dirinya, sungguh engkau telah mengghibahinya. Apabila tidak ada padanya, sungguh engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)


🌏 Simak selengkapnya: https://asysyariah.com/nikmat-lisan-untuk-apa-kita-gunakan/

📲 https://t.me/asysyariah

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Tuesday, June 16, 2020

Doa-Doa Ketika Tertimpa Kesempitan dan KesedihanDoa-Doa Ketika Tertimpa Kesempitan dan Kesedihan

Tuntunan Islam Menghadapi Wabah Virus Corona & Lainnya (Bagian 7)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Pada artikel sebelumnya sudah disebutkan dan dibahas sebagian doa-doa dan zikir-zikir yang secara khusus memiliki keutamaan memberikan perlindungan dari segala mudarat, wabah, penyakit, dan keburukan yang lain. Silakan dibaca kembali artikel sebelumnya dalam tautan berikut:

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Sesuatu yang kita ketahui besama bahwa ketika wabah penyakit tersebar, banyak manusia yang merasakan takut, sedih, sempit, dan panik. Tak jarang, akibat perasaan tersebut, manusia melakukan hal-hal yang kurang sesuai dengan syariat, seperti mencela, berkeluh kesah, mengumpat, dll.

Alhamdulillah, agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama ini telah mengajarkan kepada pemeluknya berbagai doa yang dipanjatkan ketika tertimpa kesedihan, kesempitan, dan gundah gulana. Oleh karena itu, pada artikel ini kami lampirkan sebagian doa-doa ketika menghadapi kesulitan, kesempitan, kesusahan, dan gundah gulana. Semoga bermanfaat bagi kehidupan kita secara umum dan secara khusus di masa-masa wabah penyakit seperti ini.

  1. Doa Ketika Tertimpa Kesempitan dan Kesusahan

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma,

كَانَ النَّبِيُّ يَدْعُو عِنْدَ الْكَرْبِ يَقُولُ:

“Apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam tertimpa kesusahan, beliau berdoa,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

LAA ILAAHA ILLALLAAHUL ‘AZHIIMUL HALIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU RABBUL ‘ARSYIL ‘AZHIIM, LAA ILAAHA ILLALLAAHU RABBUSSAMAAWAATI WA RABBUL ARDHI WA RABBUL ‘ARSYIL KARIIM

“Tidak ada ilah (sembahan) yang haq (benar) kecuali hanya Allah Yang Mahaagung lagi Mahasantun. Tidak ada ilah (sembahan) yang haq (benar) kecuali Allah semata, Rabb ‘Arsy yang agung. Tidak ada ilah (sembahan) yang haq (benar) kecuali hanya Allah semata, Rabb langit-langit dan bumi serta Rabb ‘Arsy yang mulia.” (HR. al-Bukhari no. 6346 dan Muslim no. 2730)

  1. Bacaan yang Diucapkan Ketika Kesusahan

Sahabiyah Asma’ bintu ‘Umais radhiyallahu anha mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku,

أَلاَ أُعَلِّمُكِ كَلِمَاتٍ تَقُولِينَهُنَّ عِنْدَ الْكَرْبِ أَوْ فِي الْكَرْبِ

“Maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang hendaklah engkau ucapkan ketika tertimpa kesusahan,

اللهُ اللهُ رَبِّي، لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“ALLAAHU ALLAAHU RABBII, LAA USY RIKU BIHII SYAI AN”

“Allah… Allah… (Dialah) Rabbku. Aku tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.” (HR. Abu Dawud no. 1525. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 1525)

  1. Bacaan yang Diucapkan dalam Kondisi Sempit dan Terdesak

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ

“Doa Dzun-Nun (Nabi Yunus) ketika beliau berada di dalam perut ikan paus, beliau berdoa,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

LAA ILAA HA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZHZHAALIMIIN

“Tidak ada ilah (sembahan) yang haq (benar) kecuali Engkau (Allah) semata. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.”

فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ

“Sungguh, tidaklah seorang muslim berdoa dengan mengucapkan kalimat ini dalam keadaan segenting apa pun, kecuali Allah pasti akan mengabulkannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 3505. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi no. 3505)

  1. Doa Orang yang Tertimpa Kesulitan

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ : اللهم رَحْمَتَكَ أَرْجُو، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Doa orang yang tertimpa kesulitan adalah ALLAAHUMMA RAHMATAKA ARJUU WA LAA TAKILNII ILAA NAFSI THARFATA ‘AIN WA ASH LIH LII SYA-NII KULLAH LAA ILAA HA ILLAA ANTA

Ya Allah, hanya rahmat-Mu lah yang kumohon, janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata. (Ya Allah,) perbaikilah keseluruhan urusanku. Tidak ada ilah (sembahan) yang haq (benar) kecuali Engkau (Allah) semata.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 539)

  1. Doa Ketika Tertimpa Hamm (Kekhawatiran dan Kesedihan dalam Membayangkan Sesuatu di Masa Depan) dan Huzn (Kesedihan dan Kegundahan ketika Teringat Sesuatu di Masa Lalu)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ أَوْ حُزْنٌ

Tidaklah seorang hamba tertimpa suatu hamm (kekhawatiran dan kesedihan dalam membayangkan sesuatu di masa depan) dan huzn (kesedihan dan kegundahan ketika teringat sesuatu di masa lalu) pun, lalu dia berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكِ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

ALLAAHUMMA INNII ‘ABDUKA WABNU ‘ABDIKA WABNU AMATIKA. NAASHIYATII BIYADIKA. MAADHIN FIYYA HUKMUKA. ‘ADLUN FIYYA QADHAA U KA. AS ALUKA BIKULLISMIN HUWA LAKA. SAMMAITA BIHII NAFSAKA. AU ANZALTAHUU FII KITAABIKA. AU ‘ALLAMTAHUU AHADAN MIN KHALQIKA. AWISTA- TSARTA BIHII FII ‘ILMIL GHAIBI ‘INDAKA. AN TAJ ‘ALAL QUR AANA RABII ‘A QALBII. WA NUURA SHAD RII. WA JILAA A HUZNII. WA DZA HAABA HAMMI

“Ya Allah, sungguh aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, anak hamba-Mu (yang perempuan), ubun-ubunku di tangan-Mu, telah lewat bagiku hukum-Mu, adil takdir-Mu bagiku. Aku meminta kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau Engkau ajarkan kepada seorang dari hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, pelapang kesedihanku, dan penghilang kegundahanku.”

إِلاَّ أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحاً

“Kecuali Allah Azza Wa Jalla akan mengangkat rasa gundah gulananya dan Allah akan mengganti kesedihannya dengan kegembiraan.”

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sebaiknya kami mempelajari rangkaian kalimat (doa) tersebut?”

قَالَ: أَجَلْ، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Tentu. Hendaklah muslim yang mendengar (doa dalam hadits ini) untuk mempelajarinya.” (HR. Ahmad  1/391, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 199)

  1. Doa Ketika Menghadapi Permasalahan yang Sulit dan Pelik

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اللهمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا

ALLAAHUMMA LAA SAHLA ILLAA MAA JA ‘ALTAHU SAHLAN WA ANTA TAJ ‘ALUL HAZNA IDZAA SYI` TA SAHLAN

“Ya Allah, tidaklah ada kemudahan, kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkaulah yang menjadikan kesedihan/kesulitan ini menjadi mudah, jika Engkau menghendakinya.” (HR. Ibnu Hibban no. 974, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu. Hadits ini dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2886)

Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah.

Demikian sebagian doa yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam menghadapi keadaan yang sulit, genting, dan ketika tertimpa kesedihan serta gundah gulana. Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk ridha atas takdir-Nya dan menjadikan lisan kita untuk senantiasa memanjatkan doa hanya kepada-Nya.

 

Ditulis oleh Ustadz Abu Ismail Arif

https://asysyariah.com/doa-doa-ketika-tertimpa-kesempitan-dan-kesedihan/

Nasihat untuk Tenaga Medis dan Seluruh Kaum Muslimin terkait Covid-19

Audio Kutipan


Link Download Audio

Bismillah

Ada beberapa tausiyah yang ingin saya sampaikan kepada para tenaga medis, terkhusus dari kalangan ikhwan.

Yang pertama, terkait dengan keadaan yang belum kondusif akibat wabah virus Covid-19.

Yang kedua, kasusnya yang semakin meningkat.

Yang ketiga, banyaknya rumah sakit yang kewalahan.

Maka dari itu, saya menasihatkan kepada para tenaga medis, terkhusus dari kalangan ikhwan;

Yang pertama, mengambil kesempatan ini untuk meraih pahala besar di sisi Allah, yaitu dengan memberikan yang terbaik kepada Orang Dalam Pengawasan (ODP) atau bahkan kepada orang yang positif, baik secara perawatan, pengobatan, maupun tindakan medis lainnya.

Hal ini merupakan bentuk taawun yang sangat besar pahalanya dan termasuk sedekah yang paling besar pula pahalanya walaupun bukan dengan harta benda.

Dikatakan paling utama karena, dalam kondisi seperti ini, mereka berada di barisan terdepan dalam menghadapi wabah ini–setelah kekuatan dari Allah azza wa jalla.

Jangan pesimis, takut ataupun gelisah; tetaplah optimis. Namun, di sisi lain, tetaplah memperbanyak doa dan mohon perlindungan kepada Allah azza wa jalla.

Berbagai upaya pencegahan yang bisa dilakukan secara medis hendaknya selalu diupayakan, seperti pola hidup bersih dan sehat (PHBS), cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan melaksanakan protokol tetap penanganan kasus Covid-19. Semua hal tersebut dilakukan dalam rangka ikhtiar kepada Allah azza wa jalla.

Ambil kesempatan ini sebagai momen untuk mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah ta’ala.

Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, ketenangan, tekad, dan semangat dalam menghadapi wabah ini dengan tetap bekerja sama dengan pemerintah.

Jangan takut, gelisah, pesimis, atau panik.

Seorang mukmin harus memiliki iman, tawakal yang tinggi, dan ikhtiar yang maksimal. Seorang mukmin harus mengambil kesempatan ini untuk meraih pahala besar dari Allah azza wa jalla.

Pihak lain pun diharapkan bantuannya. Seorang yang kaya, dengan hartanya, hendaknya membantu si miskin dalam kondisi seperti ini.

Semua pihak harus saling bertaawun sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan harta maupun tenaga. Bisa dengan memberikan penyuluhan atau arahan Islami. Semuanya harus saling bertaawun dalam menghadapi kondisi yang ada.

Tetap sabar, serahkan semua kepada Allah, tawakal, ikhtiar, dan raihlah pahala besar dengan memberikan yang terbaik sesuai dengan bidang masing-masing.

Tetaplah optimis dan lakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Lindungi diri menurut anjuran kesehatan. InsyaAllah, semua aman.

Barakallahu fiikum

Kutipan al-Ustadz Muhammad Afifuddin as-Sidawy hafizhahullah

https://asysyariah.com/nasihat-untuk-tenaga-medis-dan-seluruh-kaum-muslimin-terkait-covid-19/

Ilmu yang Bermanfaat

Syariah Edisi 2

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Ilmu yang dianugerahkan Allah I kepada hamba-Nya ada yang memberikan manfaat, ada pula yang tidak. Di sisi lain, ada pula ilmu yang pada asalnya sama sekali tidak memberikan manfaat, sehingga manusia harus menjauhinya.

Allah I telah menyebut ilmu dalam Kitab-Nya Al Qur`an terkadang dengan memujinya seperti dalam firman-Nya:

“Katakanlah, adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az -Zumar: 9)

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu. Segolongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Ali ‘Imran: 13)

Terkadang Allah I menyebutnya dengan celaan. Ilmu yang Allah I puji itu adalah ilmu yang bermanfaat dan yang Allah I cela adalah ilmu yang asalnya tidak bermanfaat, atau bisa jadi pada asalnya bermanfaat, tapi orang yang dikaruniainya tidak bisa mengambil manfaat darinya. Sebagaimana Allah I beritakan tentang sebuah kaum yang Allah I beri ilmu namun ilmu itu tidak memberi mereka manfaat. Allah I berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruklah kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.” (Al-Jumu’ah: 5)

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami. Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (hingga dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (Al-A’raf: 175)

Ayat ini menjelaskan, ilmu itu sesungguhnya bermanfaat akan tetapi orang yang dikaruniainya tidak bisa memanfaatkannya. Adapun ilmu yang pada dasarnya dicela oleh Allah I adalah seperti tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 102 dan Surat Ar-Rum ayat 7.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (karena mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan pada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari dua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu tidak memberi mudharat kepada seorangpun dengan sihirnya kecuali atas izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa menukar kitab Allah dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di akhirat. Dan amat jahatlah perbuatan mereka menukar dirinya dengan sihir kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 102)

“Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang kehidupan akhirat.” (Ar-Rum: 7)
Karena ilmu itu ada yang terpuji yaitu yang bermanfaat dan ada yang tercela yaitu yang tidak bermanfaat, maka kita dianjurkan untuk memohon kepada Allah I ilmu yang bermanfaat dan berlindung kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat. (Fadhl ‘Ilmis Salaf hal. 11-13)

Ilmu yang Bermanfaat
Ibnu Rajab Al-Hanbali t menjelaskan tentang ilmu yang bermanfaat. Beliau mengatakan, pokok segala ilmu adalah mengenal Allah I yang akan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dekat dengan-Nya, tenang dengan-Nya, dan rindu pada-Nya. Kemudian setelah itu berilmu tentang hukum-hukum Allah I, apa yang dicintai dan diridhai-Nya dari perbuatan, perkataan, keadaan atau keyakinan hamba.
Orang yang mewujudkan dua ilmu ini, maka ilmunya adalah ilmu yang bermanfaat. Ia, dengan itu, akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyu’, jiwa yang puas dan doa yang mustajab. Sebaliknya yang tidak mewujudkan dua ilmu yang bermanfaat itu, ia akan terjatuh ke dalam empat perkara yang Nabi r berlindung darinya. Bahkan ilmunya menjadi bencana buatnya, ia tidak bisa mengambil manfaat darinya karena hatinya tidak khusyu’ kepada Allah I, jiwanya tidak merasa puas dengan dunia, bahkan semakin berambisi terhadapnya. Doanya pun tidak didengar oleh Allah I karena ia tidak merealisasikan perintah-Nya serta tidak menjauhi larangan dan apa yang dibenci-Nya.
Lebih-lebih apabila ilmu tersebut bukan diambil dari Al Qur‘an dan As Sunnah, maka ilmu itu tidak bermanfaat atau tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang terjadi, kejelekannya lebih besar dari manfaatnya.
Ibnu Rajab juga menjelaskan, ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan benar ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits Nabi r serta memahami maknanya sesuai dengan yang ditafsirkan para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Lalu mempelajari apa yang berasal dari mereka tentang halal dan haram, zuhud dan semacamnya, serta berusaha mempelajari mana yang shahih dan mana yang tidak dari apa yang telah disebutkan. Kemudian berusaha untuk mengetahui makna-maknanya dan memahaminya.
Apa yang telah disebutkan tadi sudah cukup bagi orang yang berakal dan menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfaat. (Fadhl ‘Ilmis Salaf ‘Alal Khalaf, hal. 41, 45, 46, 52, 53)
Ilmu yang bermanfaat akan nampak pada seseorang dengan tanda-tandanya, yaitu:
1. Beramal dengannya.
2. Benci bila disanjung, dipuji, atau takabbur atas orang lain.
3. Semakin tawadhu’ ketika ilmunya semakin banyak.
4. Menghindar dari cinta kepemimpinan, ketenaran dan dunia.
5. Menghindar untuk mengaku berilmu.
6. Ber-su’uzhan (buruk sangka) kepada dirinya dan husnuzhan (baik sangka) kepada orang lain dalam rangka menghindari celaan kepada orang lain. (Lihat Fadhl ‘Ilmis Salaf, hal. 56-57 dan Hilyah Thalibil ‘Ilm, hal. 71)
Sebaliknya ilmu yang tidak bermanfaat juga akan nampak tanda-tandanya pada orang yang menyandangnya yaitu:
1.    Tumbuhnya sifat sombong, sangat berambisi dalam dunia dan berlomba-lomba padanya, sombong terhadap ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan memalingkan perhatian manusia kepadanya.
2.    Mengaku sebagai wali Allah I, atau merasa suci diri.
3.    Tidak mau menerima yang hak dan tunduk kepada kebenaran, dan sombong kepada orang yang mengucapkan kebenaran jika derajatnya di bawahnya dalam pandangan manusia, serta tetap dalam kebatilan.
4.    Menganggap yang lainnya bodoh dan mencela mereka dalam rangka menaikkan derajat dirinya di atas mereka. Bahkan terkadang menilai ulama terdahulu dengan kebodohan, lalai, atau lupa sehingga hal itu menjadikan ia mencintai kelebihan yang dimilikinya dan berburuk sangka kepada ulama yang terdahulu. (Lihat Fadhl ‘Ilmis Salaf, hal. 53, 54, 57, 58)
Wallahu a’lam.


https://asysyariah.com/ilmu-yang-bermanfaat/

Niat Dalam Menuntut Ilmu

Syariah Edisi 2

Ilmu merupakan ibadah. Sebagian ulama bahkan mengatakan: “Ilmu adalah shalat yang tersembunyi dan ibadah hati.” (Hilyah Thalibul ‘Ilm, hal. 9)

Maka tentunya dibutuhkan keikhlasan dalam menuntutnya, yakni benar-benar karena Allah I, bukan karena kepentingan dunia. Allah I berfirman:

“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)

Nabi r juga bersabda:

“Barangsiapa mempelajari ilmu yang diharapkan dengannya wajah Allah I (ilmu syariat, -pent.), ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bau jannah (surga) pada hari kiamat.” (Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Lihat Shahihul Jami’ no. 6159)
Juga hendaknya ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya karena bodoh itu sifat tercela, lebih-lebih menurut agama. Oleh karenanya, Nabi Musa u berlindung kepada Allah I dari kebodohan, katanya:

“Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (Al-Baqarah: 67)

Demikian pula Nabi Yusuf u berlindung kepada Allah I dari kebodohan. Allah I juga menasehatkan hal ini kepada Nabi Nuh u:

“…Sesungguhnya Aku memperingatkanmu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 46)

Sebaliknya, ilmu syariat adalah sesuatu yang terpuji dan dianjurkan. Maka tentu saja, niat untuk berilmu dan menghindari kebodohan adalah niat yang baik.

Al-Imam Ahmad t pernah ditanya oleh muridnya yang bernama Al-Muhanna. Katanya: “Apakah amalan yang terbaik?” Jawab Al-Imam Ahmad: “Menuntut ilmu.” Aku katakan: “Untuk siapa keutamaan ini?” Jawabnya: “Bagi yang niatnya benar.” Aku katakan: “Bagaimana niat yang benar?” Jawabnya: “Berniat untuk ber-tawadhu’ padanya dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya.” Dalam riwayat lain: “Juga dari umatnya.” (Adab Syar’iyyah, 2/38 dan Kitabul ‘Ilmi, Ibnu ‘Utsaimin hal. 27)

Termasuk niat yang baik adalah untuk membela syariat. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t menjelaskan, hendaknya penuntut ilmu berniat mencari ilmu untuk membela syariat. Karena membela syariat tidak mungkin dilakukan kecuali oleh para pembawa syariat itu. Ilmu itu persis seperti senjata, … dan sesungguhnya bid’ah baru akan terus muncul sehingga terkadang sebuah bid’ah tidak muncul di jaman terdahulu dan tidak terdapat dalam buku-buku. Sehingga tidak mungkin membela syariat ini kecuali seorang penuntut ilmu. (Kitabul ‘Ilmi, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 28)
Wallahu a’lam.

https://asysyariah.com/yang-diniatkan-ketika-menuntut-ilmu/

Monday, June 15, 2020

Doa Pembuka majlis sesuai sunnah


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ


ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ


ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ


ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا

زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ

ۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا

١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ

أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا

٧١

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ


 ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ


 ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.
.


_Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah , asyhadu allaa ilaaha illallaah  wa asyhadu annanmuhammadan ‘abduhu wa rasuuluh._

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

*_Ya ayyuhal-ladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun_* [QS: Ali ‘Imran : 102]

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

*_yaa ayyuhaa annaasu ttaquu rabbakumu alladzii khalaqakum min nafsin waahidatin.wakhalaqa minhaa zawjahaa wabatstsa minhumaa rijaalan katsiiran wanisaa-an wattaquu allaaha alladzii tasaa-aluuna bihi waal-arhaama inna allaaha kaana ‘alaykum raqiiban_*(QS. An-Nisaa’:1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari-pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan menga-wasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu ttaquu allaaha wa quuluu qawlan sadiidaan. yushlih lakum a’maalakum wayaghfir lakum dzunuubakum waman yuthi’i allaaha warasuulahu faqad faaza fawzan ‘azhiimaan”((QS. Al-Ahzaab: 70-71

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 70-71)

Amma ba’du:

Fainna ash-daqol hadiits kitaabullah wa khairalhadyi Hadyu Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam wa syarral umuur. mudatsatuhaa Wakulla muhdatsatin bid’ah Wakulla bid’atin dhalaalah Wakulla dhalaalatin finnaar*

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

[HR Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah RA dalam Al-Jumu`ah (867)]
[khutbatul haajah, shahih diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam oleh Nasa'i (III/104), Ibnu Majah (I/352/1110), Abu Dawud (III,460/1090). Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah hal. 144-145]